Makassar, Dunia pendidikan Indonesia mencatat sejarah baru dengan digelarnya Hackathon Guru Merah Putih oleh Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan. Selama maraton 1×24 jam, para guru dari berbagai daerah berkumpul untuk berkolaborasi menciptakan solusi digital yang langsung menjawab kebutuhan pendidikan di lapangan. Kegiatan ini sepenuhnya mengusung semangat “dari guru, untuk guru, oleh guru,” menempatkan pendidik sebagai pelaku utama inovasi. sabtu (09/08/2025)
Dalam suasana penuh semangat, berbagai tim yang terdiri dari programmer, konten kreator video, audio, grafis, animasi, hingga qori, bekerja bersama tanpa henti. Kolaborasi lintas keahlian ini menghasilkan dua inovasi strategis: Aplikasi Setoran Hafalan Juz 30 untuk mendukung literasi Al-Qur’an bagi guru dan tenaga kependidikan, serta Aplikasi Pencegahan dan Pelaporan Kekerasan di Satuan Pendidikan (PPKS) yang dirancang untuk memperkuat budaya aman dan berkarakter di lingkungan sekolah.
Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Selatan, Iqbal Nadjamuddin, menyampaikan apresiasi tinggi terhadap semangat para guru yang terlibat. Menurutnya, kegiatan ini adalah bukti bahwa guru Sulawesi Selatan mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman dan berperan aktif dalam menciptakan inovasi. “Hackathon Guru Merah Putih menunjukkan bahwa guru kita tidak hanya menguasai ruang kelas, tetapi juga mampu menjadi pencipta solusi digital yang relevan dengan kebutuhan pendidikan saat ini. Inovasi yang lahir dari kegiatan ini adalah hasil nyata dari kolaborasi, dedikasi, dan komitmen guru untuk memajukan dunia pendidikan,” ujarnya.
Plt. Kepala Bidang PTK Disdik Sulsel, Anshar Syukur, inisiator kegiatan menegaskan bahwa kegiatan ini membuktikan guru mampu melampaui perannya sebagai pengajar di kelas, menjadi inovator teknologi yang menghasilkan karya bermanfaat luas. “Berbagai tim programmer, konten kreator, dan qori berkolaborasi menghasilkan aplikasi yang tidak hanya relevan, tetapi juga langsung bisa diimplementasikan untuk mendukung pembelajaran dan perlindungan siswa. Inilah esensi dari guru, untuk guru, oleh guru,” jelasnya.
Ketua Jaringan Sekolah Digital Indonesia (JSDI), Muhammad Ramli Rahim, selaku mitra kegiatan, menyebut hackathon ini sebagai momentum penting dalam mengubah paradigma guru di era digital. Menurutnya, guru tidak lagi sekadar pengguna teknologi, melainkan pencipta solusi digital yang mampu memberi dampak nyata. Format maraton 1×24 jam ini melatih kecepatan, kreativitas, serta kemampuan kerja tim dalam menghasilkan produk yang siap pakai.
Berdasarkan penelusuran publik, Hackathon Guru Merah Putih menjadi salah satu hackathon pendidikan pertama di Indonesia yang diselenggarakan langsung oleh pemerintah dengan karakteristik unik: guru sebagai inovator utama, fokus pada penguatan literasi Al-Qur’an dan perlindungan peserta didik, serta pelaksanaan dalam format intensif satu hari penuh. Hasil karya dari kegiatan ini tidak berhenti di ruang presentasi, melainkan akan dikembangkan lebih lanjut dan diuji coba di sekolah-sekolah sebelum diimplementasikan secara luas di seluruh Sulawesi Selatan.
Kegiatan ini diharapkan menjadi model inspiratif bagi daerah lain di Indonesia, mempertegas peran guru sebagai agen perubahan yang tidak hanya mengajar, tetapi juga mencipta, berinovasi, dan memimpin transformasi pendidikan di era digital.(*)








