PELAIHARI, INFO_PAS — Meski suasana Ramadhan membuat ritme aktivitas lebih tenang, Kebun SAE Rutan Kelas IIB Pelaihari tetap bergerak. Jumat (20/2) pukul 14.30 WITA hingga selesai, warga binaan melaksanakan panen sawi dengan hasil 50 ikat sawi segar. Hasil panen ini dipersiapkan untuk dipasarkan langsung sesuai pesanan pembeli, sehingga produk yang keluar dari kebun benar-benar tepat guna: segar dan rapi.
Panen dilakukan dengan langkah sederhana namun tertib: memilih sawi yang sudah siap petik, memotong bagian pangkal dengan hati-hati, membersihkan daun yang rusak, lalu mengikatnya agar mudah dihitung dan dibawa. Setelah itu, sawi disortir kembali supaya kualitasnya seragam sebelum disalurkan sesuai jumlah pesanan. Cara kerja seperti ini menjadi bagian dari pembinaan kemandirian—bukan hanya soal “panen”, tetapi juga belajar standar kualitas dan tanggung jawab terhadap produk yang akan diterima masyarakat.
Pengawas kegiatan, Ikhsan Setiadi, menyampaikan bahwa panen kali ini terasa berbeda karena dilaksanakan di tengah ibadah puasa, sehingga setiap proses perlu dijalani dengan lebih sabar dan terukur.
“Panen sawi kali ini agak berbeda, kita harus lebih sabar karena dijalankan saat ibadah puasa. Tapi pembinaan tetap kita jalankan dengan tertib—pelan, rapi, dan konsisten—supaya warga binaan tetap punya kegiatan positif dan hasil kebun tetap maksimal,” ujar Ikhsan.
Di tengah cuaca kebun dan kondisi berpuasa, para peserta tetap terlihat antusias. Salah satunya Rizal, warga binaan yang mengikuti panen hari ini. Baginya, pembinaan SAE di bulan Ramadhan bukan alasan untuk berhenti, justru menjadi latihan menguatkan niat dan disiplin.
“Saat Ramadhan, saya belajar menahan diri dan tetap bekerja dengan baik. Pembinaan ini membuat saya lebih terbiasa disiplin dan bertanggung jawab. Harapan saya ke depan, saya bisa terus ikut kegiatan seperti ini, punya keterampilan, dan nanti bisa jadi bekal untuk hidup lebih baik,” kata Rizal.
Melalui panen sawi kali ini, SAE Rutan Pelaihari menegaskan bahwa pembinaan tetap dapat berjalan di bulan puasa dengan tempo yang menyesuaikan, tanpa kehilangan semangat produktif. Panen berbasis pesanan juga membuat hasil lebih terarah dan mengurangi risiko terbuang, karena sejak awal sudah ada tujuan penyalurannya. Kegiatan sederhana ini menjadi proses belajar yang nyata: bekerja tertib, menjaga kualitas, dan membangun kebiasaan produktif yang bermanfaat untuk masa depan warga binaan.








