Jasaview.id

Tausiyah Guru Anas Ajak Warga Binaan Rutan Pelaihari Menata Diri Jadi Lebih Baik

PELAIHARI, INFO_PAS — Suasana Masjid Istiqomah Rutan Kelas IIB Pelaihari terasa lebihteduh dari biasanya, Rabu (21/1/2026) siang. Tepat selepas aktivitas menjelang waktu Zuhur, petugas bersama Warga Binaan memenuhi saf—bukan hanya untuk menunaikan salat berjamaah, tetapi juga untuk mengikuti pembinaan kepribadian melalui tausiyah yang dimulai pukul 12.30 WITA hingga selesai.

Kegiatan ini menjadi ruang jeda yang menenangkan di tengah rutinitas, sekaligus pengingat bahwa proses pembinaan tidak melulu soal aturan dan disiplin, tetapi juga tentang membangun kesadaran batin: mengelola emosi, menata niat, dan belajar memperbaiki diri sedikit demi sedikit.

Jasaview.id

Dalam tausiyahnya, Guru Anas mengajak jamaah memulai perubahan dari hal-hal sederhana yang bisa dipraktikkan setiap hari. Ia menekankan bahwa menjadi pribadi yang lebih baik bukan perkara instan, melainkan soal konsistensi dalam langkah kecil—mengendalikan lisan, menahan amarah, dan membiasakan diri jujur pada hati sendiri.

“Menjadi pribadi yang lebih baik itu bukan menunggu sempurna dulu. Mulai saja dari yang kecil: perbaiki niat, jaga lisan, dan biasakan minta maaf ketika salah,” tutur Guru Anas di hadapan jamaah.

Ia juga mengingatkan bahwa lingkungan boleh membatasi ruang gerak, namun tidak boleh membatasi tekad untuk bertumbuh. Menurutnya, perubahan paling bermakna sering kali dimulai dari keberanian untuk mengakui kekurangan dan kemauan untuk memperbaikinya, setahap demi setahap.

“Kalau hari ini bisa menahan satu amarah, meninggalkan satu kebiasaan buruk, dan menambah satu kebaikan—itu sudah tanda Allah bukakan jalan. Yang penting istiqamah,” lanjutnya.

Petugas Rutan Kelas IIB Pelaihari, Abdul Latief, menyampaikan bahwa tausiyah dan salat berjamaah menjadi bagian penting dalam pembinaan kepribadian. Ia menilai, kegiatan seperti ini membantu membangun kontrol diri dan memperkuat nilai-nilai positif yang dibutuhkan warga binaan selama menjalani masa pembinaan.

“Pembinaan kepribadian melalui tausiyah ini kami jaga agar warga binaan punya pegangan nilai—bukan hanya paham mana yang baik, tapi juga terbiasa mempraktikkannya. Harapan kami, kebiasaan baik ini terus terbawa sampai mereka kembali ke keluarga dan masyarakat,” ujar Abdul Latief.

Salah satu Warga Binaan, Amin, mengaku senang bisa mengikuti pembinaan seperti ini. Baginya, tausiyah memberi napas baru: bukan sekadar nasihat, tetapi juga penguat hati agar tetap punya harapan dan arah untuk memperbaiki hidup.

“Saya senang sekali bisa ikut tausiyah begini. Rasanya seperti diingatkan pelan-pelan, tanpa menghakimi. Saya jadi lebih tenang, dan termotivasi untuk memperbaiki diri—walau pelan, yang penting jalan,” ujar Amin.

Kegiatan pembinaan kepribadian ini diharapkan menjadi rutinitas yang terus dijaga, sebagai bagian dari ikhtiar membangun karakter Warga Binaan agar lebih siap kembali ke masyarakat—dengan kebiasaan baik yang terus dipupuk, bukan hanya dipahami.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *