PELAIHARI, INFO_PAS — Aktivitas di Kebun Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Pelaihari kembali menghasilkan. Sebanyak 18 kilogram timun dipanen pada Kamis (1/10/2026) sebagai bagian dari kegiatan pembinaan kemandirian di bidang pertanian bagi warga binaan.
Panen dilakukan oleh Petugas Pembinaan Pertanian M. Ridho bersama warga binaan Amin. Sejumlah timun yang telah memasuki masa panen dipetik dan dikumpulkan untuk kemudian ditimbang guna mengetahui hasil produksi pada periode tersebut.
Bagi Rutan Pelaihari, kegiatan bercocok tanam tidak semata berorientasi pada hasil panen. Proses dari perawatan tanaman hingga memetik hasil menjadi ruang pembelajaran bagi warga binaan untuk mengenal tahapan kerja pertanian secara langsung, mulai dari menjaga kondisi tanaman, melakukan perawatan rutin, hingga memastikan hasil dapat dipanen pada waktu yang tepat.
M. Ridho mengatakan, kegiatan pertanian di kebun SAE dilakukan secara bertahap dengan melibatkan warga binaan dalam proses perawatan tanaman hingga panen.
“Setiap tahapan kami jadikan sebagai proses pembelajaran. Warga binaan tidak hanya melihat hasil akhirnya, tetapi ikut merawat tanaman dan memahami bagaimana sebuah hasil diperoleh melalui proses yang konsisten,” ujarnya.
Sementara itu, Amin mengaku kegiatan bertani memberikan pengalaman baru yang dapat menjadi bekal keterampilan setelah menyelesaikan masa pembinaan.
“Bertani mengajarkan kami untuk sabar dan telaten karena hasilnya tidak bisa langsung didapat. Dari merawat sampai panen, kami bisa belajar bagaimana bekerja dengan teratur dan bertanggung jawab,” katanya.
Hasil panen 18 kilogram timun tersebut menjadi salah satu gambaran dari pelaksanaan pembinaan kemandirian yang diarahkan pada peningkatan keterampilan praktis warga binaan. Program pertanian di lingkungan Rutan juga sejalan dengan Program Aksi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan Tahun 2026 mengenai kemandirian pangan melalui pertanian dengan memanfaatkan lahan yang tersedia di Lapas dan Rutan.
Melalui kegiatan yang dilakukan secara berkelanjutan, kebun SAE diharapkan tidak hanya menjadi tempat produksi tanaman, tetapi juga ruang belajar bagi warga binaan untuk membangun keterampilan, kedisiplinan, ketekunan, dan pengalaman kerja yang dapat dimanfaatkan sebagai bekal ketika kembali ke tengah masyarakat.








